BLACK AND WHITE CHRISTMAS [ONE END]
minskybum

Title               :  BLACK AND WHITE CHRISTMAS

Author           : Minskybum

Cast(s)           : 

Matsuyama Kaoru = Han Ji Soo

Oh Hye Rin (After School) as Nagano Yukari

Kim Jun Su (2PM) as Daikoku Yuuya

Rebeka Kim (After School) as Miura Suzumi

Taecyeon (2PM) as Yukishiro Kennichi

Bang Cheol Yong (MBLAQ) as Bang Cheol Yong

Park Jung Su (Super Junior) as Michael (angel)

Length          :    Oneshot

Genre(s)        :  Fantasy, romance

Disclaimer     : 

This fanfiction is only my imagination and i don’t make it for money. Those characters are belong to them, I just have the story so please don’t sue or bash me.

Summary       : 

Hidup sebatang kara dengan ketakutan mencintai dan dicintai, Matsuyama Kaoru (nama Korea, Han Ji Soo) lari dari kehidupannya yang dipenuhi warna oleh sahabat-sahabatnya hanya untuk menutupi rahasianya. Ia kembali ke tempat ia dilahirkan dan memulai kehidupan baru hanya untuk menghabiskan waktu yang ia punya. Tapi siapa sangka ia bertemu (lagi) dengan penyebab penderitaannya, cinta.

***

Sumber cahaya semakin jauh dan jauh. Buih-buih menutupi penglihatanku. Ingin sekali aku berteriak meminta tolong. Tapi mulut ini terkunci rapat, tak ingin kehabisan oksigen yang semakin menipis. Aku tenggelam…

“Hah…..Hah…….Hah……,” napasku tersengal-sengal. Aku terbangun di tengah kegelapan kamar. Kupaksa salivaku menuruni kerongkongan yang mendadak kering. Merasa tak puas, aku beranjak menuju lemari es yang hanya berjarak sepuluh langkah dari tempat tidurku. Setengah botol air mineral kuteguk demi memuaskan dahaga tengah malam. Seketika perhatianku tertuju pada jendela yang gordennya berusaha ditembus cahaya rembulan. Aku membuka gorden itu dan menatap langit tempat bulan purnama yang pucat bergantung sendiri. Hah… tinggal empat purnama lagi. Aku mendesah di bawah temaram cahaya bulan.

Kansai International Airport, Osaka 7.30 am

“Kaoru chan….!!!!”

Aku menoleh ke belakang dan mendapati empat orang sahabatku berlari-lari kecil di tengah keramaian bandara.
“Kaoru chan….!!! Hah….hah…untung keburu….,” gadis berambut pendek dan manis ini, Nagano Yukari, membungkuk dihadapanku, berusaha mengatur napasnya.

“Hey, kenapa kau tidak bilang kau akan berangkat hari ini..?!?!?!” sekarang ia berkacak pinggang, meminta alasan padaku. “Gomen ne…aku tak ingin merepotkan kalian. Lagi pula….aku…..tak pandai mengucapkan selamat tinggal,” aku membungkuk 900 di depan mereka. “Hey, memangnya kami orang lain bagimu hah…?!?!?” Yukari lagi-lagi menaikkan 1 oktaf suaranya. “Yuka chan, hentikan,” kekasih Yukari, Daikoku Yuuya, seniorku di SMA dulu, mencoba menenangkan kekasihnya yang memang susah mengendalikan emosi. “Niichan….demo….Kaoru chan….,” sekarang Yukari menangis dan Yuuya oniisan segera memeluknya. “Sudah….jangan menangis. Kita kemari untuk mengucapkan selamat tinggal pada Kao chan, seharusnya kau tersenyum, Yuka chan.”

Yukari menghapus air matanya lalu menatapku. “Gomen ne, Yukari chan,” mataku sudah berkaca-kaca, tapi aku menahannya. Yukari memelukku begitu pula Suzumi, gadis berambut panjang nan lurus ini yang sedari tadi diam kini memelukku dan menangis. Mendengar isakan kecilnya Yukari chan menangis lagi. Aku mati-matian menahan air mataku. “Kau harus sehat selalu, ingat makan dan tidur yang cukup. Apa kau sudah mendapatkan tempat tinggal di sana?” Yukari sekarang bertingkah seperti okaasanku. “Eung….sudah,” jawabku. “Aku akan kembali ke panti asuhanku yang dulu. Mungkin mereka mau menampungku untuk beberapa lama sampai aku menemukan apartemen kecil.”
“Daijoubuka?” Suzumi terlihat begitu khawatir. “Daijoubuyo Suzu chan,” aku tersenyum kecil berharap ia tak terlalu cemas lagi. “Berapa lama kau akan di sana?” suara itu akhirnya terdengar. Ya…aku akan merindukan suara itu. Aku menatapnya, laki-laki dengan tinggi 185 cm ini adalah cinta pertamaku, Yukishiro Kennichi. Tapi aku beruntung ia jatuh cinta pada Suzumi karena aku sudah memutuskan untuk hidup tanpa mencintai dan dicintai. Aku tak mampu.
“Siranaiyo, oniisan. Mungkin aku akan tinggal lebih lama. Aku merindukan kampung halamanku,” aku tersenyum dan ia membalas senyumku ditambah lagi mengacak-acak rambutku, hal yang akan aku rindukan selamanya. “Niisan….hentikan,” ucapku walau sebenarnya tak ingin. “Kau harus mengirimi kami email dan menelpon sesekali, okay?”

“Okay.”

Mohon perhatian, kepada para penumpang pesawat Japan Airline dengan tujuan Seoul, Korea Selatan dimohon untuk segera ke gerbang 7 karena pesawat akan berangkat dalam 30 menit. Terima kasih.

Mendengar pemberitahuan itu aku segera mengucapkan selamat tinggal kepada sahabat-sahabatku dan berlari tanpa menoleh lagi ke belakang. Walau dari pantulan kaca-kaca bandara, mereka terus melambai padaku. Aku sudah tak sanggup menahan air mataku yang akhirnya jatuh juga setitik kristal bening dalam pelarianku. Ya, sebenarnya aku lari dari mereka, dari kehidupanku yang indah dan penuh warna di Osaka. Rumah keduaku, setelah aku diadopsi oleh sepasang suami istri, Jepang Korea. Aku tumbuh di Jepang sejak usiaku 5 tahun. Walau bukan anak kandung, orang tuaku sangat sayang dan memanjakanku. Okaasan selalu cerita tentang Korea dan panti asuhanku dulu. Kami bertiga berjanji akan berkunjung ke sana lagi setelah umurku 17 tahun. Tapi sayang, janji itu tak pernah terwujud karena mereka mengalami kecelakan sebulan sebelum ulang tahunku yang ke-17. Sejak itu aku hidup sebatang kara karena sanak family di Jepang, tidak menyetujui pernikahan orang tua angkatku ditambah lagi okaasan tidak bisa memiliki anak. Otousan, yang seharusnya menjadi pewaris dicoret dalam silsilah keluarganya.

Semua itu diceritakan okaasan padaku saat aku berusia 16 tahun. Aku merasa ia menanggung beban itu terlalu lama dan perlu teman untuk curhat. Jadilah ia bercerita padaku dan karena cerita itulah aku tak bisa meminta bantuan mereka saat orang tuaku meninggal. Justru keluarga sahabat-sahabatku yang membantu sampai pemakaman selesai. Aku tak mengerti mengapa aku ditakdirkan hidup begini. Aku bahkan tak tahu orang tua kandungku. Suster Hyo In, suster kepala di panti asuhanku dulu, pernah mengatakan bahwa ia menemukanku di depan pintu gereja, kedinginan dan hampir meninggal. Ia yang merawatku sejak saat itu. Awalnya aku tak ingin diadopsi karena aku tak ingin berpisah dengannya. Tapi, ia bilang aku membutuhkan orang tua agar aku bisa belajar bagaimana menjalani hidup, agar aku merasakan apa yang tidak pernah aku dapatkan. Ia bahkan menceritakan segala hal yang ia tahu tentang Jepang agar aku tertarik. Yah….dia berhasil. Dan saat ini aku berharap aku bisa kembali kepelukannya, kembali ke masa laluku karena aku sudah tidak memiliki banyak waktu.

Incheon International Airport, Seoul 10.30 am

Aku menarik koperku sambil melihat secarik kertas yang memiliki empat garis lipatan. Berkali-kali aku membacanya sambil menunggu sebuah taksi. Begitu aku mendapatkan taksi langsung saja aku meminta sopir itu menuju alamat yang tertera di kertas itu. Satu jam terlewatkan, kini aku berdiri di sebuah bangunan modern yang menjulang tinggi ke langit. Aku bertanya lagi pada sopir yang masih menunggu bayaranku. Aku benar-benar tidak percaya. The last wish, having a peaceful life in Korea, has gone with autumn wind, fly away. Kini aku bingung dan panik akan tempat berteduh malam ini.
Kuseret koperku di trotoar yang ramai. Aku mencari tempat penginapan yang paling murah karena uangku tidak banyak. Aku menemukan sebuah bangunan yang memiliki kamar kosong di lantai paling atas. Sewanya yang sangat murah membuatku tergiur. Aku putuskan untuk tinggal di sana sambil mencari tahu informasi tentang panti asuhan itu. Waktu masi sore dan sekarang aku kelaparan karena belum makan siang. Aku keluar setelah sedikit berbenah di tempat tinggal baruku. Angin musim gugur semakin dingin menandakan musim dingin akan segera tiba. Aku memang lelah setelah perjalanan jauh, tapi perutku yang lapar terus berontak.

Aku berbelanja beberapa makanan di mini market dan juga membeli sebuah koran untuk mencari lowongan pekerjaan. Ketika berjalan pulang aku melewati sebuah gereja. I’m missing Him. Dan jadilah aku masuk ke gereja itu, hanya untuk berdoa dan mengucap syukur akan keselamatan yang Ia berikan.

2 days later in Korea…

Aku belum menemukan informasi yang berarti mengenai panti asuhanku. Tapi kehidupanku di Korea cukup menyenangkan. Aku sudah mendapat pekerjaan, menjadi seorang penjaga perpustakaan kota. Gajinya memang tidak banyak, tapi karena tidak ada pegawai yang bisa berbahasa Inggris, jadilah aku diterima dengan mudah. Ya, aku seorang sarjana sastra Inggris. Aku bisa saja memiliki pekerjaan yang lebih baik daripada ini, tapi aku sadar posisiku yang sekarang jadi aku menerima pekerjaan dengan gaji kecil. Lagi pula waktuku tak banyak.

Aku berjalan pulang dari bekerja. Udara sangat dingin dan aku ingin cepat-cepat pulang makan mie ramen kesukaanku. Aku memandang ke segala penjuru kota. Seoul begitu indah di malam hari. Dan ketika aku memandang ke depan, dari arah berlawanan aku melihatnya, seorang namja berwajah pucat menggosok-gosok tangannya yang telanjang tanpa sarung tangan. Hatiku tersentak dan sekelebat bayangan masa lalu terefleksi di benakku. Aku pernah merasakan apa yang dirasakan namja itu. Aku masih terbayang hal itu sampai-sampai suara benda jatuh mengagetkanku, tapi seperti….

“Oh….” Aku terkejut namja itu sudah ambruk ke tanah. Aku berlari mendekatinya. “Ya…gwenchana?” aku menempelkan punggung tanganku ke dahinya. Astaga panas sekali. Aku melihat sekeliling dan orang-orang hanya berlalu-lalang tanpa mau membantu bahkan menoleh ke arah kami. Aku tak mungkin lari dari sana. “Ya….Irreona…Jebal…Irreona,” aku menepuk-nepuk pipi tirus namja itu. Oh…cham chal saenggyokunyo.

 Pabo yeoja…!!! Apa yang aku pikirkan?!?

Namja itu membuka matanya, tapi belum sepenuhnya sadar. “Ya, kau bisa berdiri? Jebal, aku akan membawamu ke klinik dekat sini.” Ia mengangguk kecil, walau aku tak sepenuhnya yakin. Aku berusaha mengangkat namja itu dan memapahnya ke klinik terdekat.

Esok paginya…
Sreg…

Suara pintu digeser membangunkanku. Tubuhku terasa pegal dan sedikit sakit karena posisi tidur yang tidak mengenakkan. Ya, aku tertidur di samping ranjang klinik dengan posisi duduk. “Oh, kau masih di sini?” tanya dokter, pemilik klinik ini. “Ne…ahjussi. Kamsahamnida, kau mengijinkan kami untuk menginap di sini,” aku membungkuk pada seorang dokter yang sudah tua. “Cheonmaneyo. Hmm…sepertinya ia mulai membaik,” dokter itu memerhatikan namja yang tertidur tenang dan ya, aku juga melihat pucat di wajahnya sudah hilang. “Ahjussi, mianhae, aku harus berangkat kerja 2 jam lagi. Aku akan membayar semua perawatan namja ini. Jebal, biarkan ia istirahat di sini, aku tak tau alamatnya dan tolong beri tahu aku berapa biaya yang harus aku keluarkan.”
“Gwenchana, Ji Soo-ah. Aku ikhlas membantumu,” dokter itu terlihat tulus. Kami sudah akrab karena semalaman kami bicara banyak. Ia menyadari aku orang baru di kota ini, entah bagaimana. “Anio, ahjussi. Aku akan tetap membayarmu. Ini hakmu,” aku bersikeras. “Kau keras kepala juga ya, ne…seikhlasmu saja. Eottae?”

Aku tersenyum padanya. “Ne, arraseo. Sepertinya, ahjussi juga tidak memiliki perawat yang membantu di klinik. Aku akan datang setiap pulang kerja untuk membantumu.”
“Gwenchana, aku sudah biasa kerja sendiri.”
“Ani, aku akan tetap datang dan menolongmu. Aku tidak akan meminta bayaran.”

Dokter tua itu tidak menolakku yang sudah memasang puppy-eyes di hadapannya. Ia  menyetujui keinginanku dan setelah aku selesai dengan administrasi pembayaran, aku pulang ke rumah untuk ganti pakaian dan berangkat kerja.

3 months passed…

Sudah 3 bulan aku tinggal di Seoul. Dan aku merasa lebih bersyukur karena penyakitku tidak kambuh. Entah ini keajaiban atau apa, tapi yang jelas sakit kepalaku tidak muncul sesering seperti saat aku di Jepang. Yes, I’ve run form my best friends because I have this illness. Dokter memvonis umurku yang tinggal 5 bulan lagi. Aku sudah tak peduli lagi akan hidup, lagi pula aku memang ditakdirkan hidup tanpa cinta. Jadi untuk apa bertahan hidup?

“Ya, Han Ji Soo ssi….bisa tolong aku sebentar?” suara itu membuyarkan lamunanku. “Chamkkaman, Cheol Yong ssi,” aku tergopoh-gopoh menuju dapur klinik. Di sana seorang namja sibuk membuat beberapa cangkir teh hijau. Ia berusaha menghidupkan kompor tapi apinya tidak menyala juga. “Aish….kenapa susah sekali?” ia mengacak-acak rambutnya sendiri. Aku tersenyum melihat tingkahnya. Namja yang dulu sakit kini sudah sibuk membantuku di klinik. Ia bahkan numpang tinggal di rumah kecilku karena ia tidak memiliki tempat tinggal. Ia bilang ia akan melunasi hutangnya padaku. Berkali-kali aku katakan tidak usah, ia tetap saja memaksa. Ia membantu pekerjaan rumah dan juga membantu di klinik.

“Waeyo?”
“Ige…kompornya tidak mau menyala.”

“Sini aku lihat,” aku memerhatikan bagian-bagian kompor itu. “Pantas saja tidak mau menyala, kau belum menghidupkan saklar listriknya.”
“Jeongmal? Aish…pabo….”

“Haha…gwenchana, siapkan dulu minumnya ya, aku mau menolong ahjussi dulu.” Aku baru akan pergi, ia sudah menarik tanganku.

“Chamkkaman.”

“Eung…Waeyo?” tanyaku

“Malam ini, kau mau makan apa?” ia balik tanya. Aku hanya tersenyum,”Terserah kau saja.” Aku melepaskan genggamannya dan berjalan pergi. Fiuh….Aku mengeluarkan karbon dioksida yang tercekat di paru-paruku. Entah sejak kapan jantungku selalu aneh setiap aku berada di dekatnya. Tapi aku harus mengontrol diriku. Ya, karena aku tidak boleh menyakiti orang lain hanya karena perasaan bodoh ini.

Sepulang dari klinik…

“Ji Soo ssi, berapa umurmu?” tanya Cheol Yong ketika kami berjalan beriringan di trotoar. “Eung? Kenapa kau menanyakan hal itu?”

“Aku…hanya ingin tau saja.”

“Aku 21 tahun. Kau sendiri?” aku balik bertanya.

“Aku…….20 tahun,” ia tersenyum ke arahku.

“Jeongmal? Ah….kau seharusnya memanggilku ‘noona’ ayo panggil aku ‘noona’,” aku menyenggol tangan kirinya. “Kenapa aku harus?”

“Ya….aku lebih tua darimu. Kau harusnya menghormatiku, arraseo?”

“Ne…ne….arraseo….noona….”

“Begitu kan bagus. Aigo…anak pintar,” aku menepuk-nepuk punggungnya. Seketika ia merangkulku dan membuat pipiku panas. “Ya, apa yang kau lakukan?”

“Wae? Memangnya tidak boleh merangkulmu?”

“Sirheo…!!!”

“Tapi orang-orang itu saling merangkul saat berjalan,” dengan polosnya Cheol Yong menunjuk pasangan-pasangan sejoli yang lewat di hadapan kami. Aku menepuk wajahku. “Aigo…dasar saeng yang polos. Kau hidup di dunia mana sih? Mereka itu pacaran, kita tidak, jadi kita berbeda….Arrachi?”

“Kalo begitu, kita pacaran saja?”

*plak* aku menepuk wajahku lagi. Aigo....anak ini….!!!!

“Ya…noona, kau tidak mau pacaran denganku? Ah….karena umur ya?” lagi-lagi ia bertanya dengan polosnya.
“Ne….karena umur. Puas?”

“Hmm….padahal aku menyukaimu.”

Ucapannya….membuatku…. berdiri mematung. “Noona, waeyo?” Ia melihat diriku yang berada selang 3 langkah kakinya. “Jebal….”

“Mwo? Kau bilang apa?”

“Hentikan….Jebal…”

Cheol Yong masih menatapku. Aku menatap matanya yang jernih. Karena tak bisa menahan lagi, aku berlari darinya. What I can do is only running, my heart can’t handle this anymore. Run and run and run … I don’t have any courage.

Home Sweet Home…

Aku bersembunyi di bawah selimut. Cheol Yong tiba 30 menit setelah aku sampai. Entah apa yang membuatnya lama, yang jelas saat ini aku tidak mau menghadapinya. Perasaanku kacau. Srek….Srek….Suara plastik berkali-kali terdengar dan satu per satu benda diletakkan di meja. Pintu kulkas dibuka dan ditutup, langkah kaki yang aku kenal berjalan mondar-mandir, sibuk. Aku masih sembunyi, sampai-sampai langkah kaki itu kini mendekat.

Tok…Tok..Tok…

Cheol Yong mengetuk sekat yang kami buat untuk membatasi tempat tidur kami. “Noona, kau sudah tidur?”

Aku tak menyahut. “Mianhae….ucapanku yang tadi.”

“….”

“Choayo…lain kali kau akan mengerti…” tak terdengar suara lagi. Apakah ia tidur? Aku mengerjap-ngerjapkan mataku di bawah selimut tebal, berlindung dari dinginnya malam dan ketakutan menghadapi cinta.

20th December 2010…

“Ugh…” aku memegang kepalaku yang terasa mau pecah. Aku berpegangan pada rak buku terdekat. Berjalan mencari dinding dingin untuk bersandar. Aku merosot, terduduk dengan sakit kepala yang tidak ingin berhenti menyiksaku. “Ugh….” Kristal-kristal bening sudah menetes di punggung tanganku yang kuletakkan di atas lantai kayu guna menopang tubuhku yang sebentar lagi ambruk. Pandanganku semakin kabur dan aku tidak bisa mendengar kepanikan yang terjadi di perputakaan itu.

Rumah Sakit Kangnam Seoul…

“Kao chan….daijoubuka?” suara itu, suara yang aku rindukan. Di belakang suara itu, ada suara lain yang lebih menenangkanku. “Noona, gwenchana?”

Aku membuka mataku perlahan yang masi beradaptasi dengan sinar di ruangan itu.

“Cheol Yong ssi? Aku…di mana?”

 “Rumah sakit, tadi noona pingsan di tempat kerja. Seorang temanmu yang menelponku. Noona, gwenchana? Di mana yang sakit?” Cheol Yong tampak khawatir. Jebal, jangan memasang wajah seperti itu…

Aku tidak bisa bicara, jadi aku hanya menggeleng lemah. Cheol Yong ingin memanggil dokter tapi aku memegang tangannya, memintanya untuk tetap di sisiku.

“Mul…” suaraku lemah.

“Kau haus? Tunggu sebentar,” Cheol Yong memberiku minum. Aku merasa lebih baik sekarang. “Cheol Yong ssi…..nan…..” suaraku seperti bisikan dan Cheol Yong mendekati telinganya ke bibirku. Ia mengerti yang aku katakan lalu beranjak pergi. Aku bilang aku ingin pulang, aku benci rumah sakit. Saat ini Cheol Yong sedang mengurus administrasi rumah sakit. Beberapa menit kemudian ia datang bersama seorang dokter dan perawat. Dokter itu ingin bicara padaku, dan meminta yang lain keluar. “Han Ji Soo ssi, kau yakin tidak ingin dirawat di rumah sakit?”

“Ne…sonsaengnim…aku…. sudah tau ……kapan…… aku akan mati. Dokter di Jepang sudah….. memvonisku, jadi…. Percuma saja… aku menghabiskan uang untuk….perawatan rumah sakit….mianhae..” ucapku terbata-bata.

“Ne, arraseo. Stadium penyakit tumor otak Anda sudah teramat parah. Tapi jika Anda tinggal di rumah sakit, paling tidak kami masih bisa melakukan sesuatu jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.” 

Aku hanya menggeleng, aku tidak mau tinggal di rumah sakit. Ini hanya akan mengingatkanku pada orang tua angkatku. Rumah Sakit. Dokter. Perawat.  Jenasah. Kamar mayat. Aku tidak ingin mengingat hal-hal itu lagi. Akhirnya dokter itu menyerah, dan aku pun pulang.

5 days later…

Aku ditemani Cheol Yong pergi ke gereja. Kami berdoa dan kemudian kami berjalan-jalan di taman. Cheol Yong memberiku sebuah hadiah, kalung dengan mainan malaikat. “Gomawo.”

“Cheonmaneyo, noona. Kajja, kita pulang. Udara semakin dingin.”

Ketika kami akan pulang, aku menghentikannya dan menatap langit. Butiran-butiran salju mulai turun. Aku menengadahkan tanganku dan sebutir salju dan sebutir lagi jatuh ke tanganku. “White Christmas…” kataku pada Cheol Yong. Ia menatapku sejenak lalu tersenyum dan memelukku. “Merry Christmas…noona..” ucapnya lembut. Aku senang aku mendengar sesuatu yang indah di saat aku akan meninggalkan dunia ini. Aku tak ingat apa-apa, hanya temaram cahaya yang semakin jauh dan jauh. Awalnya aku takut tenggelam dalam dunia kematian yang aku rasa seperti tenggelam di lautan yang gelap. Tapi kini, aku merasa suatu ketenangan.

At last…

Aku terbangun di tempat yang indah. Bermandikan cahaya mentari yang hangat, oh….awan….aku berjalan di awan. Aku terus melangkah dan melihat sebuah gerbang emas yang besar. Ketika akan melangkah lagi, seseorang menahanku dengan menyentuh pundakku. Aku menoleh dan terkejut.

“Cheol Yong ssi? Eottoke…?”

“Aku tinggal di sini. Mari, aku akan mengantarmu.”

Sepasang sayap muncul dari punggungnya dan ia menarik tanganku lembut. Kami terbang melewati gerbang emas raksasa. Inikah surga?

Kami tiba di suatu tempat dengan pilar-pilar yang tinggi. Cheol Yong mengajakku masuk, dan di sana ada banyak sekali malaikat. Aku bingung, mengapa aku diajak kemari.

“Selamat datang kembali, Amethys.” Seorang malaikat, yang sepertinya pemimpin di sini menyambutku dengan pelukan hangat. Aku semakin tidak mengerti. Ia kemudian menyerahkan sebuah perkamen berpitakan pita silver yang cantik. “Untukmu,” ucapnya. Aku membuka perkamen itu dan dalam hitungan detik cahaya emas menyelimutiku. Aku merasa sesuatu tumbuh dari punggungku dan banyak sekali bayangan-bayangan kehidupan masa laluku melintas di mataku. Aku, sekarang tau siapa diriku. “Amethys.”

“Michael,” sekarang aku mengenalnya. Kami berpelukan. “Akhirnya kau kembali dari hukumanmu.”

“Ya, aku kembali. Aku harus berterima kasih pada-Nya”

“Ia sedang mendengarmu.” Kami saling tersenyum.

Ya, aku adalah seorang malaikat yang dihukum karena jatuh cinta pada seorang manusia. Manusia itu tak lain dan tak bukan adalah orang yang sekali lagi aku cintai. My angel, Cheol Yong. Tuhan mengubah posisi kami. Ia mengangkat Cheol Yong menjadi malaikat dan aku diturunkan ke bumi, hidup menderita, ditinggal orang-orang yang aku sayangi, dan sakit. Tapi sekarang semua itu sudah berakhir. Aku kembali dan lebih baiknya lagi, aku sekarang bisa mencintai dan dicintai. Ya, kami sekarang sama.

“Hey, kau di sini.”

Cheol Yong menghampiriku yang sedang duduk di pinggir awan, menatapi sunset akhir tahun. “Waeyo? Ah…aku masih belum tau nama malaikatmu.”

“Mereka memberiku nama Miron, tapi aku lebih memilih untuk dipanggil Mir,” ia tersenyum. “Jadi apa aku masih harus memanggilmu noona atau Ji Soo atau Kaoru atau Amethys?”

“Apa saja, terserah kau.”

“Kurom….aku akan memanggilmu, chagia…Nae chagia, shall we fly?”

“Mwo?”

“Yah….aku ingin berdansa walts denganmu di langit, eottae?”

“Sure, I do.”

Cheol Yong atau Mir menarik tanganku dan kami terbang berdua, berdansa dengan latar sunset yang indah. Aku menikmatinya, sama seperti saat kami berdansa di bumi (dalam kehidupan bumi, Cheol Yong [manusia], aku [malaikat yang menyamar]). “Oh, aku ingin kau bertemu seseorang.” Cheol Yong tiba-tiba menghentikan dansa kami lalu menarikku terbang ke suatu tempat. Tempat itu penuh dengan bunga, ada banyak anak-anak yang bermain, memetik bunga, berlarian, dan tertawa. Di antara mereka ada seseorang dengan pakaian seorang suster. Aku sangat mengenali postur tubuh itu, dan benar saja, itu dia. “Suster Hyo In.” dan si empunya nama berbalik menghadapku, tersenyum.


-FIN-

 

 


?

Log in